Duta Besar Jepang tidak bepergian dengan sabar di MRT Jakarta untuk makan siang di Blok M

27 Mar 2019 eddye

Hasil gambar untuk mRT jakarta

Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Masafumi Ishii, mengatakan bahwa ia berharap dapat menggunakan Integrated Fashion Raya (MRT) di Jakarta untuk mendukung kegiatan sehari-harinya. Salah satunya menggunakan moda transportasi dengan kereta api untuk makan siang di salah satu pusat perbelanjaan Blok M di selatan Jakarta. “Kedutaan Besar Jepang akan pergi ke sana, saya ingin secara pribadi menggunakan MRI, dan jika saya makan saat makan siang saya ingin makan MRI di Blok M. Jika saya makan siang di Blok M, saya akan memposting di Instagram,” canda Ishii tentang pertanyaan itu dari Kompas.com, Minggu (24/3/2019). Jarak ke Kedutaan Besar Jepang di Jalan MH Thamrin, nomor 24, dekat dengan Stasiun MRT HI Roundabout.

Dibutuhkan kurang dari lima menit untuk berjalan, karena jaraknya hanya 100 meter. Lokasi halte bus atau stasiun MRT tepat di depan Blok M Plaza. Bahkan, stasiun ini terintegrasi dengan jembatan penyeberangan ke mal. Peresmian jalur MRT Jakarta Selatan dari Lebak Bulus ke bundaran HI, kata Ishii, adalah titik awal untuk memperkuat kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Jepang. Selain itu, pada saat pelantikan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengarahkan pembangunan MRT Fase 2 dari bundaran HI di Kampung Bandan sejauh delapan kilometer. “Bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla ingin meminta bantuan Jepang untuk membangun jalur MRI 200 km selama 10 tahun, dan proyek kerja sama antara Jepang dan Indonesia akan berlanjut,” katanya. Kehadiran MRT, Ishii menambahkan, akan memiliki dampak besar pada kemajuan sistem transportasi umum di negara ini, terutama di Jakarta.

Kemacetan yang telah terjadi sejauh ini dapat dikurangi, sehingga diharapkan akan terjadi peningkatan tingkat ekonomi Indonesia. Yasuhiro Shinohara, Wakil Menteri Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata Jepang, mengatakan bahwa sebelum MRT Jakarta datang, waktu perjalanan Lebak Bulus untuk Putaran HI dapat mencapai satu jam. “Tapi itu bisa memakan waktu hingga 30 menit,” kata Shinohara.

Dia menambahkan bahwa Jepang dulu memiliki masalah transportasi yang sama dengan Jakarta. Dari polusi udara ke polusi suara. Namun, pemerintah Jepang secara bertahap mengadopsi kebijakan untuk mendorong orang beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum. “Kami orang Jepang ingin berkontribusi dengan mengekspor infrastruktur berkualitas tinggi seperti kereta ke Indonesia,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *